BimaNTB_Kupasbima.Info. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Bima khususnya pengelolaan yang dilakukan di Pasar tradisional Tente Woha telah dilakukan pemeriksaan oleh lembaga BPKP. Pemeriksaan tersebut menindaklanjuti adanya indikasi terselubung oleh UPT Pasar Tente kaitan dengan maraknya bangunan liar di area pasar, BPKP hadir sebagai badan pengawas atas apa yang telah terjadi di wilayah Pasar Tente.
Pantauan langsung kru media ini bahwa, kehadiran BPKP tersebut sejak pagi untuk melakukan upaya penyegahan terhadap dugaan kejahatan atas jabatan juga proses penarikan retribusi pasar.
Kepala UPT yang didampingi kru pasar lainnya dicerca sejumlah pertanyaan kaitan dengan anggaran pasar juga sistem pengelolaannya.
"Dicerca pertanyaan dari BPKP, Pihak pasar irit bicara dan cenderung bingung atas pertanyaan. Dilihat dari gestur kru pasar, diduga ada indikasi yang mereka sembunyikan dari setiap pertanyaan," Pantauan langsung kru media ini, Senin (16/02/26) siang.
Seorang warga pasar yang ditanyain kru media ini di lokasi pemeriksaan menyampaikan, kehadiran rekan-rekan BPKP saat ini kami mendukung, Mengapa? Karena selama ini kami duga praktek mafia di lingkungan pasar raya tente marak dan sistematis.
Sumber yang enggan diberitakan namanya tersebut melanjutkan, selama kami ini ada di pasar menyaksikan banyak sekali praktek pungli dipasar tente. Dimana kami sebagai warga pasar harus menerima penarikan retribusi dua sampai 4 kali sehari dan itu bervariasi.
Disisi lain, bangunan liar yang atasnamakan swadaya sudah sangat marak di wilayah Pasar. Bangunan Liar yang bukan dari program pemerintah ini dibandrol dengan harga yang besar berkisar 15 juta/unit dengan luas bangunan 2×1.5 M2.
"Atas nama swadaya, mereka bangun dengan perkiraan modal hanya maksimal 8 juta, tapi dibandrol ke pelaku pasar dengan harga Rp 15 bahkan 16 juta/unit. Keuntungan dari harga tersebut masuknya kemana?, tanya dia.
Kata dia, diharapkan kepada Disperindak Kabupaten Bima jangan hanya datang terima upeti donk, minimal perhatikan dan ataur ini wilayah Pasar. Selama ini bangunan liar marak, yang untung hanya sekelompok orang dan yang disiksa kami selaku penjual di pasar.
"Semoga BPKP serius dalam penanganan dan pengawasan pasar, jangan-jangan hadirnya mereka hanya untuk menakuti kepala UPT Pasar dan Kru Pasar saja. Setelah disuguhi bumbu langsung keos dan berujung," harapnya.
Kami juga menduga hadirnya BPKP ini tidak berujung, karena hari ini libur nasional atau tanggal merah. Tapi kenapa mereka datang periksa Kepala dan KRU UPT Pasar tradisional Tente.
"Jangan-jangan merak hadir mencari cuan dan menunggu upeti untuk diri sendiri," duganya.
Sementara BPKP yang ditemui oleh kru media ini enggan menanggapi dan bahkan tak merespon saat mau dikonfirmasi.
"Jumlah mereka 4 orang, tidak satupun yang mau dikonfirmasi kru media. Apa yang perlu dirahasiakan kepada publik?, jika benar hadirnya mereka untuk meluruskan persoalan di Pasar Raya Tente," heran kru media.
Diharapkan kehadiran BPKP di Pasar raya tente bukan atas keinginan pribadi, tapi hadir untuk mengawasi kejanggalan pengelolaan pasar raya tente. Baik berupa tata kelola bangunan liar maupun pengawasan retribusi pasar terhadap pelaku usaha di pasar.
"BPKP harus serius, karena kepercayaan masyarakat pasar saat ini sudah tak ada. Apalagi kaitan dengan bangunan liar dan retribusi pasar" harapnya. (KB 001*/Red).

.jpg)
.jpg)


0 Komentar