Bima_Kupasbima.com. Kabupaten dan Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, menyimpan kekayaan alam dan budaya yang luar biasa. Namun, dibalik keindahan tersebut, tersembunyi tantangan kompleks terkait pengelolaan kependudukan dan lingkungan hidup, hal tersebut diperparah oleh tingginya risiko bencana.
Pertumbuhan penduduk yang pesat, tekanan terhadap sumber daya alam, dan perubahan iklim menjadi faktor-faktor yang saling terkait dan meningkatkan kerentanan wilayah ini terhadap berbagai ancaman bencanan.
Dalam dua tahun terakhir, wilayah Bima mengalami serangkaian kejadian bencana yang signifikan. Awal Februari 2025, banjir bandang menerjang Kecamatan Wera dan Ambalawi di Kabupaten Bima, menyebabkan banyak korban meninggal dunia dan bahkan sampai korbanpun ada yang tidak ditemukan walaupun sudah diusahakan secara maksimal dalam pencarian.
Bencana ini juga berdampak luas pada sektor pertanian dengan sekitar 40 hektar lahan terendam dan tertimbun sedimen, serta merusak infrastruktur seperti jalan, irigasi, dan bendungan dengan kerugian ditaksir mencapai Rp 75 miliar. Selain banjir, angin kencang juga dilaporkan terjadi di beberapa desa, menyebabkan kerusakan terhadap rumah warga.
Sebelumnya, data historis menunjukkan bahwa banjir memang menjadi ancaman utama di Bima. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir hingga tahun 2018, tercatat 28 kejadian banjir di Kabupaten Bima yang mengakibatkan korban jiwa, luka-luka, dan pengungsian massal, serta berdampak pada lebih dari 38% wilayah Kabupaten Bima. Sementara itu, data dari tahun 2021 di Kota Bima mencatat adanya kejadian banjir, gempa bumi, dan tanah longsor di berbagai kecamatan, menunjukkan keragaman ancaman bencana yang dihadapi wilayah ini.
Dengan demikian, pengelolaan risiko bencana yang komprehensif dan terintegrasi sangat krusial bagi Bima.
Perspektif kebencanaan dalam konteks ini bukan hanya sekadar respons pasca-bencana, melainkan sebuah paradigma proaktif yang mengintegrasikan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dalam setiap aspek pembangunan.
Sehingga memahami akar permasalahan dan potensi dampak bencana, kita dapat merumuskan solusi yang lebih komprehensif dan berkelanjutan. Pendekatan Pentahelix, yang melibatkan sinergi antara lima elemen kunci masyarakat, menawarkan kerangka kerja yang kuat untuk mencapai tujuan ini.
Peran Akademisi : Riset dan Inovasi untuk Ketahanan Bencana
Kalangan akademisi memegang peranan penting dalam menyediakan landasan ilmiah dan data yang akurat untuk pengelolaan kependudukan, lingkungan hidup, dan risiko bencana di Bima.
Melalui penelitian yang mendalam, universitas dan lembaga riset dapat mengidentifikasi pola-pola kerentanan, memetakan risiko bencana secara spasial dan temporal, serta mengembangkan model prediksi dan mitigasi yang efektif.
Misalnya, penelitian mengenai dampak perubahan tata ruang terhadap risiko banjir di daerah aliran sungai (DAS) dapat memberikan rekomendasi kebijakan yang berbasis bukti kepada pemerintah daerah. Pengembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk sistem peringatan dini (early warning system) yang lebih akurat dan terjangkau juga merupakan kontribusi penting dari akademisi. Selain itu, pendidikan dan sosialisasi mengenai kebencanaan kepada masyarakat perlu diintensifkan melalui kurikulum formal maupun program-program pengabdian masyarakat.
Sektor Bisnis : Investasi Berkelanjutan dan Tanggung Jawab Sosial
Sektor bisnis memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam pengelolaan kependudukan dan lingkungan hidup yang berorientasi pada ketahanan bencana di Bima. Investasi dalam praktik bisnis yang berkelanjutan, seperti penggunaan energi terbarukan, pengelolaan limbah yang bertanggung jawab, dan pembangunan infrastruktur yang tahan bencana, dapat mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dan meminimalisir risiko kerugian akibat bencana.
Selain itu, program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dapat diarahkan untuk mendukung upaya-upaya PRB di tingkat komunitas, seperti pembangunan infrastruktur skala kecil yang adaptif terhadap bencana, pelatihan keterampilan untuk mata pencaharian alternatif yang lebih resilien, dan peningkatan kesadaran masyarakat tentang risiko bencana.
Kemitraan antara sektor bisnis dan pemerintah daerah dalam mengembangkan skema asuransi bencana juga dapat membantu masyarakat dan dunia usaha memulihkan diri lebih cepat setelah terjadi bencana.
Komunitas : Garda Terdepan dalam Mitigasi dan Adaptasi
Keterlibatan aktif komunitas lokal merupakan kunci keberhasilan pengelolaan kependudukan dan lingkungan hidup yang tangguh terhadap bencana di Bima. Masyarakat memiliki pengetahuan lokal yang berharga tentang karakteristik wilayahnya, termasuk riwayat bencana, pola cuaca, dan kearifan lokal dalam menghadapi tantangan lingkungan.
Penguatan kapasitas masyarakat melalui pelatihan-pelatihan mengenai PRB, pembentukan kelompok-kelompok siaga bencana, dan pengembangan rencana kontinjensi berbasis komunitas akan meningkatkan kesiapsiagaan dan kemampuan mereka untuk merespons bencana secara efektif. Pemberdayaan perempuan dan kelompok rentan lainnya dalam proses pengambilan keputusan terkait pengelolaan lingkungan dan risiko bencana juga sangat penting untuk memastikan solusi yang inklusif dan adil.
Pemerintah : Regulator, Fasilitator, dan Koordinator
Pemerintah daerah memiliki peran sentral dalam merumuskan kebijakan, regulasi, dan program-program yang mengintegrasikan pengelolaan kependudukan, lingkungan hidup, dan pengurangan risiko bencana di Bima. Pemerintah bertanggung jawab untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif bagi praktik bisnis berkelanjutan, menyediakan layanan publik yang responsif terhadap risiko bencana (seperti sistem drainase yang baik dan infrastruktur yang tahan gempa), serta mengalokasikan anggaran yang memadai untuk upaya-upaya PRB.
Koordinasi yang efektif antar berbagai instansi pemerintah, serta antara pemerintah dengan elemen Pentahelix lainnya, sangat penting untuk memastikan implementasi kebijakan dan program yang terpadu dan efisien. Pemerintah juga perlu memfasilitasi dialog dan partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan terkait pengelolaan lingkungan dan risiko bencana.
Media : Edukasi, Sosialisasi, dan Pengawasan
Media massa, baik cetak, elektronik, maupun daring, memiliki peran strategis dalam mengedukasi dan menyosialisasikan informasi mengenai pengelolaan kependudukan, lingkungan hidup, dan risiko bencana kepada masyarakat luas di Bima. Melalui pemberitaan yang akurat dan bertanggung jawab, media dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang ancaman bencana, langkah-langkah mitigasi yang dapat dilakukan, serta pentingnya pelestarian lingkungan.
Selain itu, media juga berfungsi sebagai pengawas terhadap implementasi kebijakan dan program-program pemerintah terkait pengelolaan lingkungan dan PRB. Kritik konstruktif dan pelaporan investigatif dari media dapat mendorong akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan sumber daya alam dan upaya-upaya pengurangan risiko bencana. Pemanfaatan media sosial sebagai platform untuk diseminasi informasi dan interaksi dengan masyarakat juga perlu dioptimalkan.
Integrasi Perspektif Kebencanaan dalam Solusi Pengelolaan
Mengintegrasikan perspektif kebencanaan dalam setiap aspek pengelolaan kependudukan dan lingkungan hidup di Bima memerlukan pendekatan yang holistik dan berkelanjutan. Beberapa solusi konkret yang dapat dipertimbangkan melalui lensa Pentahelix adalah:
1. Tata Ruang Berbasis Risiko Bencana : Pemerintah daerah, dengan dukungan akademisi dan partisipasi masyarakat, perlu menyusun rencana tata ruang yang mempertimbangkan zonasi risiko bencana. Pengembangan permukiman dan infrastruktur vital sebaiknya diarahkan ke wilayah yang relatif aman, sementara kawasan rawan bencana diperuntukkan bagi fungsi lindung atau pengembangan dengan mitigasi yang ketat. Sektor bisnis dapat mendukung implementasi tata ruang ini dengan berinvestasi pada pembangunan yang sesuai dengan standar ketahanan bencana.
2. Pengelolaan Sumber Daya Alam Berkelanjutan : Pemanfaatan sumber daya alam, seperti air, lahan, dan hutan, harus dilakukan secara berkelanjutan dengan mempertimbangkan daya dukung lingkungan dan potensi dampak bencana. Pemerintah perlu mendorong praktik-praktik pertanian dan perikanan yang ramah lingkungan, serta melakukan rehabilitasi kawasan hutan dan lahan kritis untuk mengurangi risiko erosi dan banjir. Komunitas dapat berperan aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui kearifan lokal dan praktik-praktik konservasi.
3. Penguatan Kapasitas Masyarakat dalam PRB : Program-program pelatihan dan sosialisasi mengenai PRB perlu ditingkatkan dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok rentan. Pembentukan forum-forum komunitas siaga bencana dan pengembangan rencana kontinjensi berbasis masyarakat akan meningkatkan kemandirian dan ketangguhan dalam menghadapi bencana. Media dapat berperan dalam menyebarkan informasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesiapsiagaan.
4. Pengembangan Sistem Peringatan Dini yang Partisipatif : Sistem peringatan dini yang efektif harus didukung oleh teknologi yang handal, disosialisasikan secara luas, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Akademisi dapat berkontribusi dalam pengembangan teknologi dan model prediksi yang lebih akurat, sementara pemerintah bertanggung jawab untuk mengintegrasikan sistem ini dalam mekanisme pengambilan keputusan dan diseminasi informasi. Keterlibatan komunitas dalam pemantauan dan penyebaran informasi peringatan dini juga sangat penting.
5. Pemulihan dan Pembangunan Kembali yang Lebih Baik (Build Back Better): Pasca-bencana, upaya pemulihan dan pembangunan kembali harus dilakukan dengan prinsip "build back better," yaitu membangun kembali infrastruktur dan sistem sosial ekonomi yang lebih tahan terhadap bencana di masa depan. Sektor bisnis dapat berperan dalam menyediakan teknologi dan solusi konstruksi yang inovatif, sementara pemerintah dan komunitas perlu memastikan bahwa proses pemulihan dilakukan secara partisipatif dan inklusif.
Kesimpulannya : Sinergi Pentahelix untuk Bima yang Lebih Tangguh
Pengelolaan kependudukan dan lingkungan hidup di Bima yang berperspektif kebencanaan memerlukan sinergi yang kuat antara akademisi, bisnis, komunitas, pemerintah, dan media (Pentahelix). Setiap elemen memiliki peran dan kontribusi unik dalam menciptakan solusi yang komprehensif dan berkelanjutan. Akademisi menyediakan landasan ilmiah dan inovasi, bisnis berinvestasi dalam praktik berkelanjutan dan tanggung jawab sosial, komunitas menjadi garda terdepan dalam mitigasi dan adaptasi, pemerintah bertindak sebagai regulator, fasilitator, dan koordinator, sementara media berperan dalam edukasi, sosialisasi, dan pengawasan.
Dengan mengintegrasikan perspektif kebencanaan dalam setiap aspek pembangunan dan memberdayakan seluruh elemen Pentahelix, Bima dapat membangun ketahanan yang lebih kuat terhadap berbagai ancaman bencana, mewujudkan pengelolaan kependudukan dan lingkungan hidup yang berkelanjutan, serta memastikan kesejahteraan masyarakat dimasa depan. Kolaborasi dan komitmen yang berkelanjutan dari seluruh pihak menjadi kunci keberhasilan dalam mewujudkan Bima yang lebih aman, nyaman, dan berdaya saing.
Opini Oleh : Nur Daya (Merak)
Ketua Mapala "Londa" UNSWA Bima

.jpg)
.jpg)


0 Komentar