Bima_Kupas. Info. Genderang politik sudah mulai ditabuh, menggema dari kota sampai pelosok, dari yang berdasi sampai ke yang bersarung, bahkan dari kaum elit hingga masyarakat biasa.
Politik sebagai pesta bergengsi di negeri ini, gaungnyapun menembus batas pètualang. Ini pertanda bahwa politik hajatan setiap orang dengan cara dan ruang berbeda sesuai seni masing-masing individu maupun kelompok.
Jika boleh jujur, saya pribadi tidak mau terlalu jauh bicara politik, apalagi masuk ke ranah praktis karena saya bukan background politik apalagi politisi. Dalam kehidupan sosial, seakan politik merasuk setiap nadi warga negara sekalipun pada level yang paling rendah yaitu sekedar mendengar ekspresi politik dari warga di tiap lorong gang dan emperan rumah bahkan di jalan-jalan. Mungkin ini bagian dari pesta demokrasi yang dimaksud?.
Suatu ketika dalam perjalanan ke kota Bima saya istrahat sejenak di sebuah perkampungan, karna pada saat itu cuaca sangat panas dan rasa ngantuk seakan melakban mata. Sekitar itu terihat banyak sekali masyarakat yang hanyut dalam ngobrol, mata sudah tak bisa diajak kompromi pos kamling pun jadi tempat bersandar untuk tidur.
Dikala badan dan mataku merekat tapi telingaku berpetualang di mana-mana hanya untuk menerawang isi obrolan si penghuni barugak disebelahku.
Oleh telingaku yang seakan mulai lelap dengan rasa ngantuknya mataku terdengar suara bapak-bapak di berugak sebelah celetus bicara politik seakan menjadi pengantar tidur di pos kamling.
Biasanya yang namanya pengantar tidur, efeknya kita sudah berada di alam lain alias tertidur pules, tapi ini tidak, justru mata yang merekat kembali terasa ringan berkedip karena mendengar bincangan politik bapak- bapak disebelah.
Yang menarik dari obrolan mereka, bukan pada siapa mendukung siapa atau pro-kontara dalam pilihan dari suasana ngobrolnya mereka, tapi disitu saya menangkap nilai dari sebuah demokrasi.
Bapak 1: Bune ra laona ke lenga ?? Ngaha bongi bou atau bongi ntoi. nahu ku ngaha bongi bouku.
Bapak 2: Nahu ke wati kanggihi ku fare lengae...nahu ku kanggihi bawa ku. Nahu Tahopu peta ku dei bawa mantoi dari pada bawa bou.
Seperti itu kira-kira obrolan bapak-bapak saat itu. Ngobrol yang jauh dari saling menjatuhkan satu sama lain tanpa harus terlalu jauh membicarakan kelemahan setiap calon. Suasana akrab mewarnai ngobro mereka saat itu.
Ekspresi politik begitu sederhana membawa nilai yang begitu elegan. Bila dikupas dialog diatas, kata intinya adalah bongi bou vs bongi ntoi dan bawa bou vs bawantoi.
Bapak 1 lebih memilih bongi bou. Mungkin deskripsinya bongi bou jauh lebih lembut jika dikonsumsi. Dan begitupun Bapak 2 yang lebih menyukai bawa ntoi dari pada bawa bou untuk dijadikan bibit mungkin deskripsinya bila bibit lama ditanam sudah cukup matang untuk ditanam dan bagus dalam pertumbuhan.
Mereka memilih dengan pertimbangan yang cukup matang apalagi merujuk pada filosofi pekerjaan mereka. Memaknai filososi dari ekspresi politik mereka, hanya merekalah yang mampu mengekspresikannya di ranah politik. Mereka yang berekspresi dan mereka juga yang paham motif dari ungkapan itu.
Dialog ini memberikan pesan bahwa setiap kompetitor politik memiliki kelebihan dan kekurangan masing masing tanpa harus mendebatkan lebih jauh kelebihan dan kekurangannya.
Masyarakat pun bebas memilih berdasarkan hati nurani dan perspektif mereka sendiri. Tanpa harus saling meledek satu sama lain. mereka berbicara politik dalam suasana akrab, santai dan sambil ngopi tidak ketinggalan juga rokok menemani sekalipun mereka dalam pilihan yang berbeda.
Nilai lain yaitu mereka masyarakat biasa. semuanya petani bila saya lihat dari bawaannya. tapi saat bicara politik mereka mampu mengendalikan diri, pikiran mereka sama, sama-sama memikirkan masa depan kampungnya.
Mereka Masyarakat biasa tapi cukup matang dan cerdas memaknai demokrasi sebagai sebuah pesta. Bagi mereka pesta itu tidak bicara menang kalah tapi yang paling penting bagaimana merayakan pesta dengan suasana gembira. Karna esensi dari sebuah pesta itu adalah kegembiraan bukan permusuhan.
Jika saja pesta politik mampu dimaknai, tidak ada lagi yang namanya tensi politik tingkat tinggi, tidak ada lagi mengintip kekurangan calon lain sebagai bahan kampanye. Apalagi memanfaatkan momen politik untuk memecah belah.
Sejenak kita lihat dan baca postingan di beranda facebook, Banyak sekali yang memanfaatkan medsos ini sebagai sarana menebar kebencian, sarana menuduh dan menuding. Belum lagi kata-kata kasar yang tidak mencerminkan jati diri. Bila dimanfaatkan dengan baik, medsos menjadi alat politik yang menjanjikan elektabilitas petarung politik, dengan mengekspose tawaran program masing-masing calon.
Jadikan pesta ini sabagai ajang menguji pengendalian diri kita. Mengendalikan diri dari melakukan black and negative campign. tidak berkampanye negatif dan kampanye hitam.
Tidak membicarakan aib orang (negative campign) lebih-lebih tidak mengada ada aib orang (black campign). Ketika itu dilakukan, mungkin ini yang dimaksud dengan ghibah oleh Agama.
Inilah sederet nilai yang saya tangkap dari obrolan ringan masyarakat saat itu. Bagi saya, itu obrolan politik yang berkelas dibanding postingan di medsos oleh mereka yang notabene kaum idealis.
Cuaca tidak seekstrim beberapa menit sebelumnya, mata pun tidak menunjukan bawaan ngantuk, beat hitam setia menunggu melanjutkan perjalanan menuju kota tepian air. Hehehehhe sekian dan gas pool.
Opini oleh : Syahrul Ama La Shima

.jpg)
.jpg)


0 Komentar